Mengelola Amarah

483
Mengelola Amarah

SUCCESS.ID – Marah sering jadi sesuatu hal yang tidak bisa kita kontrol. Ada amarah yang memang seharusnya terjadi, ada amarah yang hanya karena kita terlalu emosional sehingga segala sesuatu kita serap dengan intensitas tinggi dan keluarkankan dalam bentuk amarah.

Marah, emosi tingkat tinggi yang kadang membuat seorang jadi lupa diri, memang datangnya bisa dari luar diri individu yang bersangkutan. Seseorang pantas marah bila memang ada individu lain yang menyakiti perasaannya. Perasaan marah ketika diperlakukan tidak adil, ketika dilecehkan, ketika seorang mengkhianati kita atau menjatuhkan harga diri kita, itu adalah perasaan yang wajar.

Menjadi tidak wajar ketika sedikit masalah saja membuat emosi kita tidak terkendali. Hal-hal kecil seperti seorang tiba-tiba melotot ke arah kita atau seorang anak kecil yang baru belajar naik sepeda menabrak kita, misalnya.

Tentu saja, kita ingin menjadi manusia dengan emosi marah yang masih dalam taraf kewajaran. Untuk itu, kemampuan mengelola amarah harus diusahakan untuk dipelajari. Karena kemampuan itu tidak datang begitu saja.

Jika kita tipe individu yang memang tidak pernah bisa mengendalikan amarah dan emosi kita, beberapa hal ini yang harus kita lakukan:

Masalah Kita Apa?

Masalah dari seseorang yang selalu mudah marah dan emosi adalah diri mereka sendiri. Mereka mudah emosi, mereka tidak bisa berdiam diri untuk menahan emosinya. Mereka beranggapan setiap orang yang melukai mereka berhak untuk dihukum karena apa yang telah mereka lakukan.
Untuk itu kita wajib mengetahui: karakter kita yang sebenarnya seperti apa? Jika sudah memahami kita seperti apa, akan lebih mudah untuk memahami bentuk kemarahan kita ketika sebuah masalah menimpa kita.

Teman terdekat, sahabat karib biasanya akan lebih paham karakter kita. Minta tolong mereka untuk mengungkapkan tentang diri kita sejujurnya, sehingga akan lebih mudah untuk kita intropeksi.

Belajar Memilah Masalah

Setiap orang pasti memiliki masalah. Tapi tidak setiap orang menanggapi masalah dengan cara yang sama. Ada yang butuh diam untuk merenung dan memikirkan jalan terbaik untuk masalahnya, ada yang ketika sedikit masalah saja langsung emosinya naik ke tingkat tertinggi. Seorang dengan luapan emosi seperti itu, biasanya adalah karakter yang tingkat egoisnya cukup tinggi. Seorang yang biasanya mudah marah, mudah meluapkan emosinya, seringnya tidak terima ketika ada orang lain yang melakukan hal yang sama kepada mereka.

Belajarlah untuk memilah masalah dengan baik. Kalau kita tidak mampu, kita bisa menulisnya sebagai alat ukur. Misal, di bagian kanan kita tulis masalah sepele dan di bagian kiri kita tulis masalah besar. Lalu kita tulis apa saja masalah yang kita anggap sepele dan masalah yang kita anggap besar.

Dengan memilah seperti itu kita jadi tahu kadar emosi kita seperti apa. Jika untuk masalah sepele saja kita tidak bisa tidur dan mudah emosi, itu artinya diri kita memang bermasalah dan harus segera diperbaiki.

Hitung Sampai Seratus

Jika emosi mulai meningkat, coba hitung sampai seratus sebelum kita benar-benar meluapkan emosi kita. Menghitung sampai seratus mulai dari satu lalu tarik napas dalam-dalam dan keluarkan, dua tarik napas lagi, keluarkan lagi, tiga, dan seterusnya.

Tapi, jika menghitung sampai seratus tidak membuat kita sabar melakukannya, kita bisa mengalihkan pada hal lain yang menyenangkan seperti melompat-lompat, menyanyikan lagu kesukaan kita, atau berbelanja. Beberapa individu efektif untuk melakukan hal itu.

Tapi tentu saja harus diingat, masalah kita tetap harus diselesaikan. Jalan ini membantu untuk kita sedikit cooling down agar pikiran kita lebih segar sehingga kita tidak mudah emosi.

Menulis

Jika hal di atas tidak juga memuaskan kita juga dan masih saja emosi, lakukanlah hal lain seperti dengan menulis, menggambar, atau hal yang sifatnya pengalihan dengan cara lebih kreatif.

Beberapa seniman melakukan pengalihan kemarahan, rasa tertekan dengan membuat karya.

Kita bisa menuliskan kemarahan kita. Ungkapkan semuanya secara terperinci. Lalu setelah itu kita endapkan dan kita baca lagi beberapa jam kemudian. Ungkapan itu bisa dalam bentuk karya tulis seperti puisi, artikel, atau fiksi.

Ada hal-hal yang akan kita sadari ketika membaca ulang apa yang sudah kita tulis bahwa ada poin-poin yang tidak penting yang memang tidak perlu untuk membuat kita marah. Dan biasanya hasil karya orang yang sedang marah berbeda dengan hasil karya orang yang melakukannya dalam keadaan tenang. Dengan bahasa gambar juga sama seperti itu. Hal-hal seperti itu akan membuat kita lega karena bisa mengekspresikan amarah kita dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat.

Teriak Saja

Ada terapi tawa di beberapa tempat untuk menghilangkan rasa stres. Ada juga terapi dengan menghancurkan benda-benda yang tidak terpakai. Ada juga terapi lain yang bisa jadi efektif untuk meluapkan kemarahan kita.

Berteriak juga merupakan salah satu terapi emosi yang cukup baik. Jika kita merasa emosi ketika menghadapi sesuatu, dan menghitung atau menulis tidak bisa membuat kita merasa lebih lega, maka cari saja tempat yang aman untuk kita berteriak sehingga emosi kita meluap semua.

Kita bisa datang ke taman bermain dengan wahana permainan yang memacu adrenalin agar kita bisa bebas berteriak. Ingat, jika kita melakukannya di tempat biasa, bukan di wahana kita harus tahu waktu dan tempat yang tepat untuk itu. Kita tidak mungkin berteriak di tengah malam di halaman rumah kita, karena itu hanya akan mendatangkan masalah baru untuk kita.

Nah, jika semua itu sudah dilakukan, semoga kita bisa jadi pribadi yang lebih bisa mengendalikan amarah. Tapi, semua itu memang butuh proses. Bagi yang belum berhasil sepenuhnya, coba konsultasikan kepada psikolog atau orang yang Anda anggap bisa membantu. Semoga berhasil…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − thirteen =